Kisah Nabi Yusuf 'Alaihissalam II

Yusuf Memilih di Dalam Penjara

Maka kaum wanita pun menerima alasan istri Al 'Aziz, dan ketika Yusuf melihat keadaan seperti itu, ia berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
قَا لَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْۤ اِلَيْهِ ۚ وَاِ لَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَ كُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ

"Yusuf berkata, "Wahai Tuhanku ! Penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh." (QS. Yusuf 12 : Ayat 33)
Hampir saja terjadi fitnah di Madinah karena rasa cinta kaum wanita kepada Yusuf, maka pihak berwenang memandang bahwa Yusuf perlu dipenjarakan sampai waktu tertentu.

Mereka pun memenjarakan Yusuf dan tinggallah Yusuf di penjara selama beberapa waktu, dan ternyata ada pula dua orang yang masuk penjara bersamanya, yang satu sebagai tukang roti, sedangkan yang satu lagi tukang pemberi minum raja.

Keduanya melihat akhlak Nabi Yusuf yang begitu mulia dan ibadah yang dilakukannya yang mengagumkan, sehingga keduanya mendatangi Yusuf dan menceritakan mimpi keduanya kepada Yusuf sebagaimana yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya,
وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيٰنِ ۗ قَا لَ اَحَدُهُمَاۤ اِنِّيْۤ اَرٰٮنِيْۤ اَعْصِرُ خَمْرًا ۚ وَقَا لَ الْاٰ خَرُ اِنِّيْۤ اَرٰٮنِيْۤ اَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِيْ خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۗ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيْلِهٖ ۚ اِنَّا نَرٰٮكَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, "Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur," dan yang lainnya berkata, "Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf 12 : Ayat 36)
Maka Nabi Yusuf menakwil mimpi keduanya, namun sebelumnya Nabi Yusuf mengajak mereka beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.

Selanjutnya, Ia menakwilkan mimpi mereka berdua, bahwa di antara mereka berdua ada yang akan keluar dari penjara dan kembali bekerja seperti semula memberi minum kepada raja, sedangkan yang satu lagi akan disalib dan burung akan memakan kepalanya.

Sebelum pemberi minum dikeluarkan dari penjara, Nabi Yusuf meminta kepadanya agar menyampaikan masalah dirinya kepada raja, bahwa dia tidaklah bersalah dan bahwa dia dipenjara secara zalim agar Ia dimaafkan dan dikeluarkan dari penjara.

Tetapi setan membuat tukang pemberi minum raja ini lupa, tidak menyebutkan masalah Yusuf kepada raja, sehingga Yusuf tetap tinggal di penjara beberapa tahun lamanya. Maka berlalu lah waktu dan terjadilah apa yang ditakwilkan Yusuf itu terhadap keduanya.

Raja Bermimpi

Pada suatu hari, raja tidur dan bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering.

Maka raja pun segera bangun dari tidurnya dalam keadaan terkejut, ia pun segera mengumpulkan para pemukanya dan menceritakan mimpinya itu serta meminta mereka menakwilkan mimpi itu, tetapi mereka semua tidak sanggup. Mereka juga berusaha memalingkan raja dari mimpi itu agar tidak dibuat cemas olehnya sambil berkata,
قَا لُوْۤا اَضْغَا ثُ اَحْلَا مٍ ۚ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيْلِ الْاَ حْلَا مِ بِعٰلِمِيْنَ

"Mereka menjawab, "(Itu) mimpi mimpi yang kosong dan kami tidak mampu menakwilkan mimpi itu." (QS. Yusuf 12 : Ayat 44)
Meskipun demikian, raja tetap gelisah atas mimpinya itu dan terus berusaha mengetahui maksud mimpinya, hingga akhirnya tukang pemberi minum raja ingat dengan Nabi Yusuf dan meminta raja masuk ke dalam penjara untuk menemui Yusuf.

Ketika itulah ia meminta Nabi Yusuf menakwilkan mimpi raja itu, maka Yusuf menakwilkannya. Bahwa sapi yang gemuk dan tujuh bulir yang hijau itu adalah tujuh tahun dimana pada tahun itu penuh dengan kebaikan dan keberkahan.

Nabi Yusuf 'alaihissalam tidak hanya menakwilkan mimpi, tetapi menawarkan cara terbaik bagi mereka dalam mengatasinya, yaitu mereka harus menyimpan hasil tanaman mereka untuk menghadapi tahun tahun kemarau dengan cara membiarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk dimakan sampai Allah akan membukakan kelapangan.

Ketika tukang pemberi minuman raja telah mengetahui takwilnya, maka ia segera kembali ke raja dan memberitakan apa yang dikatakan Yusuf kepadanya, maka raja pun bergembira sekali. Lalu raja bertanya tentang orang yang menakwil mimpinya itu, maka tukang pemberi minum raja memberitahukannya, yaitu Yusuf.

Mendengar jawabannya, maka raja segera meminta Yusuf dibawa ke hadapannya. Lalu utusan raja segera menemui Yusuf dan menyuruh Yusuf mengikuti ajakan raja untuk menemuinya, tetapi Yusuf menolak menemuinya sampai jelas kebersihan dirinya dan bahwa dirinya tidak bersalah, agar raja mengetahui tentang apa yang terjadi pada kaum wanita di kota itu.

Keluarnya Yusuf dari Penjara dan Menjadi Pejabat Mesir

Maka raja pun mengirim utusan untuk menemui istri Al 'Aziz dan wanita wanita lainnya serta bertanya kepada mereka tentang masalah Yusuf, mereka pun mengakui kesalahan mereka serta menyatakan tobatnya, mereka berkata,
"Maha suci Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya."
Istri Al 'Aziz juga menjelaskan kebersihan Yusuf di hadapan semua masyarakat.

Yusuf Bertemu Saudara Saudaranya

Ketika itulah, raja mengeluarkan ketetapan bersihnya Yusuf dari tuduhan yang ditujukan kepadanya dan memerintahkan agar Yusuf dikeluarkan dari penjara. Ia juga memuliakan Yusuf dan mendekatkan dirinya kepadanya, lalu raja memberikan pilihan kepadanya untuk memilih jabatan yang ia mau, maka Yusuf berkata,
قَا لَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَآئِنِ الْاَ رْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ

"Dia (Yusuf) berkata, "Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan." (QS. Yusuf 12 : Ayat 55)
Raja pun setuju terhadap permintaan Yusuf itu karena amanah dan ilmunya. Selanjutnya, apa yang dimimpikan raja pun terwujud satu persatu.

Di tengah tengah pembagian bahan makanan pokok yang dilakukan Yusuf kepada rakyat, tiba tiba Yusuf bertemu dengan orang orang yang ia kenali, baik bahasanya, fisiknya, dan nama namanya.

Orang orang ini datang secara tiba tiba tanpa disadari sebelumnya, dan ternyata mereka adalah saudara saudaranya, anak anak ayahnya, Nabi Ya'qub 'alaihissalam. Yusuf mengenali mereka, namun mereka tidak mengenalnya lagi.

Merekalah yang dahulu melempar Yusuf ke dalam sumur ketika ia masih kecil, namun sekarang mereka datang karena butuh bahan makanan. Yusuf pun berbuat baik kepada mereka dan mereka juga bermu'amalah secara baik kepadanya.

Selanjutnya Yusuf menanyakan keadaan mereka dan jumlah mereka, lalu mereka memberitahukan bahwa jumlah mereka ada dua belas orang, seorang dari mereka pergi dan masih ada saudara kandungnya yang sedang bersama ayahnya karena ayahnya mencintainya dan berat melepasnya.

Setelah Yusuf menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dimana masing masing mereka memperoleh seukuran beban unta, maka Yusuf berkata,
وَ لَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَا زِهِمْ قَا لَ ائْتُوْنِيْ بِاَ خٍ لَّكُمْ مِّنْ اَبِيْكُمْ ۚ اَ لَا تَرَوْنَ اَنِّيْۤ اُوْفِی الْكَيْلَ وَاَ نَاۡ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ

"Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dia berkata, "Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik ?" (QS. Yusuf 12: Ayat 59)
فَاِ نْ لَّمْ تَأْتُوْنِيْ بِهٖ فَلَا كَيْلَ لَـكُمْ عِنْدِيْ وَلَا تَقْرَبُوْنِ

"Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku." (QS. Yusuf 12 : Ayat 60)
Saudara saudara Yusuf berkata,
قَا لُوْا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ اَبَاهُ وَاِ نَّا لَفَا عِلُوْنَ

"Mereka berkata, "Kami akan membujuk ayahnya (untuk membawanya) dan kami benar benar akan melaksanakannya." (QS. Yusuf 12 : Ayat 61)
Lalu Yusuf memerintahkan para pelayannya untuk memasukkan barang barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung karung mereka, agar mereka mengetahuinya ketika mereka telah kembali kepada keluarganya, yakni agar mereka mengembalikan barang barang itu ke Mesir atau karena Yusuf khawatir nanti mereka tidak mendapatkan sesuatu untuk menukar lagi.

Yang demikian dilakukan Yusuf agar mereka bersedia kembali lagi kepadanya. Kemudian saudara saudara Yusuf pulang menemui ayah mereka sambil berkata,
فَلَمَّا رَجَعُوْۤا اِلٰۤى اَبِيْهِمْ قَا لُوْا يٰۤاَ بَا نَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَاَ رْسِلْ مَعَنَاۤ اَخَا نَا نَكْتَلْ وَاِ نَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ

"Maka ketika mereka telah kembali kepada ayahnya (Ya'qub) mereka berkata, "Wahai ayah kami ! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah, dan kami benar benar akan menjaganya." (QS. Yusuf 12 : Ayat 63)
Tetapi Nabi Ya’qub menolaknya, kemudian saudara saudara Yusuf pergi mendatangi barang mereka untuk mengeluarkan isi barang bawaan mereka, tetapi mereka dikejutkan dengan adanya barang mereka yang lama yang mereka jadikan sebagai alat tukar.

Maka mereka memberitahukan kepada ayah mereka bahwa barang bawaan mereka dikembalikan, dan mereka pun segera mendesak ayah mereka dengan menyebutkan maslahatnya bagi keluarga mereka ketika memperoleh makanan.

Mereka juga menguatkan azamnya untuk menjaga saudara mereka, Bunyamin. Mereka juga mendorong ayah mereka dengan sungguh sungguh agar takaran bagi saudara mereka bertambah, karena Yusuf memberikan untuk setiap orangnya seukuran beban unta. Maka ayah mereka berkata,
قَا لَ لَنْ اُرْسِلَهٗ مَعَكُمْ حَتّٰى تُؤْتُوْنِ مَوْثِقًا مِّنَ اللّٰهِ لَــتَأْتُنَّنِيْ بِهٖۤ اِلَّاۤ اَنْ يُّحَا طَ بِكُمْ ۚ فَلَمَّاۤ اٰتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَا لَ اللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ

"Dia (Ya'qub) berkata, "Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kamu, sebelum kamu bersumpah kepadaku atas (nama) Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung (musuh)." Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Ya'qub) berkata, "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan." (QS. Yusuf 12 : Ayat 66)

Saudara Saudara Yusuf Kembali ke Mesir

Setelah mereka memberikan janji mereka, Maka Ya’qub berkata,
 فَلَمَّاۤ اٰتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَا لَ اللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ

"Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Ya'qub) berkata, "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan." (QS. Yusuf 12 : Ayat 66)
Nabi Ya'qub juga berpesan kepada mereka dengan berkata,
وَقَا لَ يٰبَنِيَّ لَا تَدْخُلُوْا مِنْۢ بَا بٍ وَّا حِدٍ وَّا دْخُلُوْا مِنْ اَبْوَا بٍ مُّتَفَرِّقَةٍ ۗ وَمَاۤ اُغْنِيْ عَنْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ ۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۚ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ

"Dan dia (Ya'qub) berkata, "Wahai anak anakku ! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu pintu gerbang yang berbeda, namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang orang yang bertawakal." (QS. Yusuf 12 : Ayat 67)
Maka berangkatlah saudara saudara Yusuf ke Mesir dan masuk ke pintu gerbangnya mengikuti saran ayah mereka agar mereka tidak tertimpa 'ain (penyakit dari mata) karena penampilan mereka yang rupawan atau agar mereka mendapat berita tentang Yusuf.

Selanjutnya, ketika mereka telah berada di depan Yusuf, maka Yusuf mengajak saudaranya yang paling kecil itu (Bunyamin), mendekatkannya dan berbincang bincang secara berduaan dengannya, dan memberitahukan bahwa dirinya adalah saudaranya, Yusuf.