Kisah Nabi Nuh - Bahtera Nabi Nuh 'Alaihissalam

Bahtera Nabi Nuh, Kapal Penyelamat Umat yang Taat

Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam terus menerus menentang apa yang beliau dakwahkan. Kadar kekufuran, kejahatan, dan pembangkangan mereka (baik dengan perkataan maupun perbuatan) sudah mencapai puncaknya.

Para orang tua, apabila melihat anaknya sudah beranjak dewasa, selekas mungkin berwasiat agar jangan beriman kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam serta hendaklah terus memerangi dan menyelisihi beliau.

Maka lengkap sudah kejahatan dan kesalahan yang terkumpul pada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Mereka telah kufur dan berbuat kejahatan secara merata. Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam benar benar durhaka sampai mengingkari kerasulan Nabi Nuh ‘alaihissalam di akhirat.

Nabi Nuh ‘alaihissalam menyimpulkan bahwa pada diri mereka sudah tidak ada harapan kebaikan sama sekali. Maka Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan pelajaran setimpal kepada mereka. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
فَدَعَا رَبَّهٗۤ اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَا نْـتَصِرْ

"Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, "Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku)." (QS. Al Qamar 54 : 10)
وَ قَا لَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَ رْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّا رًا

"Dan Nuh berkata, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang orang kafir itu tinggal di atas bumi." (QS. Nuh 71 : 26)

Perintah Membuat Bahtera

Pada akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Nuh ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam, bahwasanya akan menimpakan banjir besar pada kaumnya. Untuk itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk membuat sebuah bahtera yang amat besar.

Bahtera itu akan memuat Nabi Nuh ‘alaihissalam, orang orang yang beriman, serta beragam makhluk yang mempunyai ruh yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tetap hidup sesudah banjir bandang menimpanya.

Pembuatan bahtera yang amat besar itu bukanlah hal yang sederhana. Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing dan mengawasi secara langsung akan pembuatannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَا صْنَعِ الْفُلْكَ بِاَ عْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَا طِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۚ اِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ

"Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan." (QS. Hud 11 : 37)

Bentuk Bahtera Nabi Nuh ‘alaihissalam

Ahli sejarah berselisih pendapat tentang panjang dan lebarnya bahtera tersebut. Ada yang menyatakan panjangnya 80 dziro’ dan lebarnya 50 dziro’, ada yang menyatakan panjangnya 300 dziro’ dan lebarnya 50 dziro’. Kalau 1 dziro’ sama dengan 0,5 meter, hitunglah berapa luasnya. Tetapi mereka bersepakat bahwa tingginya 30 dziro’.

Perahu itu mempunyai 3 lantai, lantai dasar untuk binatang buas dan merayap, lantai kedua untuk manusia, dan lantai ketiga untuk unggas dan burung burung. Bahtera itu mempunyai pintu yang terletak di tengah dan mempunyai daun pintu yang mengunci rapat dari atas. Di setiap ruas kayu, baik dari dalam maupun luar, dilumuri dengan tir yang berfungsi menahan air agar tidak bisa masuk.

Ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam memulai membuat bahtera. Kaumnya bukannya makin sadar akan kekhilafan mereka, tetapi malah menjadi jadi dalam mengejeknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ ۗ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَاٌ مِّنْ قَوْمِهٖ سَخِرُوْا مِنْهُ ۗ قَا لَ اِنْ تَسْخَرُوْا مِنَّا فَاِ نَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُوْنَ

"Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, "Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami)." (QS. Hud 11 : 38)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menghibur Nabi Nuh ‘alaihissalam agar jangan bersedih hati atas apa yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kabar kepadanya, bahwa sekali kali tidak akan bertambah orang yang beriman dari kaumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاُ وْحِيَ اِلٰى نُوْحٍ اَنَّهٗ لَنْ يُّؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ اِلَّا مَنْ قَدْ اٰمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَا نُوْا يَفْعَلُوْنَ

"Dan diwahyukan kepada Nuh, "Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat." (QS. Hud 11 : 36)

Ketika Banjir Besar Datang

Setelah pembuatan bahtera selesai, datanglah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam dan kaumnya. Tiba tiba Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan langit untuk mengguyur bumi dengan air yang deras, disusul bumi agar memancarkan air dari segala penjuru dengan cepat, tungku tungku tempat perapian pun berubah menjadi mata air yang tak henti hentinya. Bertemulah sumber air yang melimpah baik dari atas maupun dari bawah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam agar segera menaiki bahtera beserta orang orang yang beriman dan keluarganya, dan tidak memberi masa tenggang waktu, barangkali orang orang yang sebelumnya jelas jelas tidak beriman mau diajak.

Berbagai macam binatang dengan pasangannya berbondong bondong mengikutinya. Setelah seluruh muatan sudah naik, maka Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata kepada seisi makhluk yang ada di bahtera tersebut,
وَقَا لَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰىهَا وَمُرْسٰٮهَا ۗ اِنَّ رَبِّيْ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Dan dia berkata, "Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Hud 11 : 41)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk berdoa,
فَاِ ذَا اسْتَوَيْتَ اَنْتَ وَمَنْ مَّعَكَ عَلَى الْـفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ نَجّٰٮنَا مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

"Dan apabila engkau dan orang orang yang bersamamu telah berada di atas kapal, maka ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang orang yang zalim." (QS. Al Mu'minun 23 : 28)
وَقُلْ رَّبِّ اَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبٰـرَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ

"Dan berdoalah, "Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik baik pemberi tempat." (QS. Al Mu'minun 23 : 29)
Saat itu seisi bumi dipenuhi dengan air, baik gunungnya, bukitnya, padang pasirnya, bagian datarnya dan jurangnya. Kebanyakan para ahli tafsir mengatakan bahwa ketinggian air kala itu di atas permukaan gunung yang paling tinggi 15 dziro'.

Bumi saat itu betul betul tidak bertepi. Semuanya dipenuhi dengan air. Bahtera itu melewati ombak yang tingginya bagaikan gunung gunung. Semua kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam yang membangkang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga tak tersisa seorang pun.

Mereka tenggelam bersama kepongahan terhadap syariat nabi mereka. Mereka tenggelam bersama kesombongan kepada ajaran nabi mereka. Itulah balasan bagi orang orang yang menentang agama Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan orang yang zhalim akan mengalami hal yang semisalnya.
مُّسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۗ وَ مَا هِيَ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ بِبَعِيْدٍ

"Yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang zalim." (QS. Hud 11 : 83)