Kisah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam I

Azar (Ayah Nabi Ibrahim) hidup di negeri Babil, Irak, ia membuat patung dan menjualnya kepada orang orang agar mereka menyembahnya. Ia memiliki seorang anak yang masih kecil bernama Ibrahim yang Allah karuniakan kepada sang anak tersebut hikmah dan kecerdasan sejak kecil. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
وَلَـقَدْ اٰتَيْنَاۤ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهٗ مِنْ قَبْلُ وَ كُنَّا بِهٖ عٰلِمِيْنَ

"Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk dan Kami telah mengetahui dia." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 51)
Saat usianya semakin dewasa, mulailah ia memikirkan siapakah Tuhan yang berhak disembah, kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepadanya sehingga dia dapat mengenal Allah, Tuhannya.

Allah Subhanahu wa Ta ala juga menjadikannya sebagai Nabi dan Rasul kepada kaumnya untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, mengeluarkan mereka dari menyembah patung dan berhala menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menurunkan suhuf (lembaran) kepada Nabi Ibrahim yang di dalamnya terdapat adab, nasihat, dan hukum hukum agar beliau menunjukkan kepada kaumnya, mengajarkan kepada mereka dasar dasar agama, serta menasihati mereka untuk taat kepada Allah, Tuhan mereka, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan menjauhi segala perbuatan yang bertentangan dengan akhlak yang mulia.

Saat Nabi Ibrahim 'alaihissalam pulang ke rumahnya, ia menemui ayahnya dan berkata,
اِذْ قَا لَ لِاَ بِيْهِ يٰۤـاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَ لَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـئًـا

"(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku ! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun ?" (QS. Maryam 19 : Ayat 42)
يٰۤـاَبَتِ اِنِّيْ قَدْ جَآءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَا تَّبِعْنِيْۤ اَهْدِكَ صِرَا طًا سَوِيًّا

"Wahai ayahku ! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus." (QS. Maryam 19 : Ayat 43)
يٰۤـاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَا نَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا

"Wahai ayahku ! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih." (QS. Maryam 19 : Ayat 44)
يٰۤاَ بَتِ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَا بٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا

"Wahai ayahku ! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan." (QS. Maryam 19 : Ayat 45)
Namun ayahnya menolak ajakan anaknya, yaitu Ibrahim 'alaihissalam. Sambil marah ia berkata,
قَا لَ اَرَا غِبٌ اَنْتَ عَنْ اٰلِهَتِيْ يٰۤاِ بْرٰهِيْمُ ۚ لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ لَاَ رْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِيْ مَلِيًّا

"Dia (ayahnya) berkata, "Bencikah engkau kepada tuhan tuhanku, wahai Ibrahim ? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama." (QS. Maryam 19 : Ayat 46)
Tetapi Nabi Ibrahim bersabar menghadapi sikap keras ayahnya, bahkan membalasnya dengan sikap sayang dan berbakti, ia berkata,
قَا لَ سَلٰمٌ عَلَيْكَ ۚ سَاَ سْتَغْفِرُ لَـكَ رَبِّيْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ بِيْ حَفِيًّا

"Dia (Ibrahim) berkata, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (QS. Maryam 19 : Ayat 47)
وَ اَعْتَزِلُـكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَ دْعُوْا رَبِّيْ ۖ عَسٰۤى اَ لَّاۤ اَكُوْنَ بِدُعَآءِ رَبِّيْ شَقِيًّا

"Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku." (QS. Maryam 19 : Ayat 48)

Dakwah Nabi Ibrahim Kepada Penduduk Hiran dan Babil

Di zaman Nabi Ibrahim 'alaihissalam, orang orang menyembah bintang bintang dan juga patung patung.

Yang menyembah bintang bintang adalah penduduk Hiran, sedangkan yang menyembah patung adalah penduduk Babil.

Nabi Ibrahim 'Alaihissalam Berdakwah Kepada Penduduk Hiran

Penduduk Hiran adalah para penyembah bintang bintang. Beliau mengajak kaumnya berpikir memperhatikan benda benda langit, apa pantas benda benda tersebut disembah. Disebutkan kisahnya dalam Al Qur'an,
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۚ قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَ قَا لَ لَاۤ اُحِبُّ الْاٰ فِلِيْنَ

"Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, "Inilah tuhanku." Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, "Aku tidak suka kepada yang terbenam." (QS. Al An'am 6 : Ayat 76)
فَلَمَّا رَاَالْقَمَرَ بَا زِغًا قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَ قَا لَ لَئِنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَ كُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّآ لِّيْنَ

"Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, "Inilah tuhanku." Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang orang yang sesat." (QS. Al An'am 6 : Ayat 77)
فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَا زِغَةً قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَاۤ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَتْ قَا لَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

"Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah tuhanku, ini lebih besar." Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, "Wahai kaumku ! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." (QS. Al An'am 6 : Ayat 78)
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ حَنِيْفًا وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

"Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang orang musyrik." (QS. Al An'am 6 : Ayat 79)
وَحَآ جَّهٗ قَوْمُهٗ ۗ قَا لَ اَتُحَآ جُّۤونِّيْ فِى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰٮنِ ۗ وَلَاۤ اَخَا فُ مَا تُشْرِكُوْنَ بِهٖۤ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ رَبِّيْ شَيْئًـا ۗ وَسِعَ رَبِّيْ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ

"Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar benar telah memberi petunjuk kepadaku ? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran ?" (QS. Al An'am 6 : Ayat 80)
Dalam beberapa ayat tersebut, Nabi Ibrahim mengajak kaumnya berpikir jernih tentang kelayakan menyembah hayaakil (benda benda langit). Setelah menjelaskan kepada kaumnya tentang batilnya menyembah benda benda langit ini, Nabi Ibrahim berkata,
فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَا زِغَةً قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَاۤ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَتْ قَا لَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

"Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah tuhanku, ini lebih besar." Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, "Wahai kaumku ! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." (QS. Al An'am 6 : Ayat 78)
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ حَنِيْفًا وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ 

"Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang orang musyrik." (QS. Al An'am 6 : Ayat 79)
Demikianlah ajaran Nabi Ibrahim, ajarannya adalah ajaran para nabi dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad ﷺ, yaitu tauhid (beribadah hanya kepada Allah dan meniadakan sesembahan selain-Nya). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَا لنَّهَا رُ وَا لشَّمْسُ وَا لْقَمَرُ ۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَا سْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

"Dan sebagian dari tanda tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." (QS. Fussilat 41 : Ayat 37)

Nabi Ibrahim 'Alaihissalam Berdakwah kepada Penduduk Babil

Penduduk Babil adalah penduduk yang menyembah patung patung.

Nabi Ibrahim 'alaihissalam juga keluar menuju tempat peribadatan kaumnya untuk mengajak kaumnya menyembah Allah, saat sampai di sana, Beliau mendapatkan kaumnya sedang tekun menyembah patung yang banyak jumlahnya, mereka menyembahnya, merendahkan diri di hadapannya, serta meminta dipenuhi kebutuhan mereka kepadanya, maka Nabi Ibrahim menghampirinya dan berkata,
اِذْ قَا لَ لِاَ بِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَا ثِيْلُ الَّتِيْۤ اَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُوْنَ

"(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, "Patung patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya ?" (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 52)
Kaumnya menjawab,
قَا لُوْا وَجَدْنَاۤ اٰبَآءَنَا لَهَا عٰبِدِيْنَ
"Mereka menjawab, "Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 53)
Demikianlah kaumnya, mereka tidak memiliki alasan terhadap perbuatan mereka selain mengikuti nenek moyang mereka yang sesat. Nabi Ibrahim berkata lagi,
قَا لَ لَـقَدْ كُنْتُمْ اَنْتُمْ وَاٰ بَآ ؤُكُمْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

"Dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 54)
Kaumnya menjawab,
قَا لُوْۤا اَجِئْتَـنَا بِا لْحَـقِّ اَمْ اَنْتَ مِنَ اللّٰعِبِيْنَ

"Mereka berkata, "Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkau main main ?" (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 55)
Nabi Ibrahim menjawab,
قَا لَ بَلْ رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ الَّذِيْ فَطَرَهُنَّ ۖ وَاَ نَاۡ عَلٰى ذٰلِكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ

"Dia (Ibrahim) menjawab, "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan (pemilik) langit dan bumi, (Dialah) yang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas itu." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 56)
Ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam melihat kaumnya tetap kokoh di atas penyembahan kepada patung, maka Beliau memikirkan bagaimana caranya menghancurkan patung patung itu agar mereka mau berpikir.

Abu Ishaq mengatakan dari Abul Ahwash dari Abdullah, ia berkata,
"Ketika kaum Nabi Ibrahim keluar menuju tempat mereka berhari raya, kaumnya (ada yang mengatakan "bapaknya") melewati Nabi Ibrahim sambil berkata, "Wahai Ibrahim, mengapa kamu tidak ikut bersama kami ?" Ibrahim menjawab, "Sesungguhnya aku sedang sakit dari kemarin," Nabi Ibrahim pun melanjutkan kata katanya, "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya." Maka salah seorang di antara kaumnya ada yang mendengar kata kata itu.

Dengan diam diam Nabi Ibrahim 'alaihissalam pergi menuju ke tempat patung patung itu berada, saat melihat di hadapan patung patung itu banyak makanan, maka Ibrahim mengejek patung patung itu dengan berkata, "Mengapa kalian tidak makan dan mengapa kalian tidak bicara ?"
Segeralah Nabi Ibrahim menghancurkan berhala berhala hingga terpotong potong menggunakan kapaknya, kecuali berhala yang paling besar.

Menurut sejarah, Nabi Ibrahim menaruh kapaknya (yang digunakan untuk menghancurkan patung patung) di tangan patung yang paling besar, agar kaumnya mengira bahwa patung inilah yang menghancurkannya dan ia tidak rela ada yang menyembah selainnya.

Ketika kaumnya kembali mendatangi tempat patung yang mereka sembah dan melihat apa yang terjadi, lalu mereka berkata,
قَا لُوْا مَنْ فَعَلَ هٰذَا بِاٰ لِهَتِنَاۤ اِنَّهٗ لَمِنَ الظّٰلِمِيْنَ

"Mereka berkata, "Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap Tuhan Tuhan kami ? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 59)
Salah seorang di antara mereka berkata,
قَا لُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَا لُ لَهٗۤ اِبْرٰهِيْمُ

"Mereka (yang lain) berkata, "Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala berhala ini), namanya Ibrahim." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 60)
Kaumnya berkata,
قَا لُوْا فَأْتُوْا بِهٖ عَلٰۤى اَعْيُنِ النَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُوْنَ

"Mereka berkata, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 61)
Nabi Ibrahim pun dihadapkan kepada mereka dan disidang, lalu mereka berkata,
قَا لُوْۤا ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا بِاٰ لِهَتِنَا يٰۤاِ بْرٰهِيْمُ 

"Mereka bertanya, "Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap Tuhan Tuhan kami, wahai Ibrahim?" (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 62)
Nabi Ibrahim 'alaihissalam menjawab,
قَا لَ بَلْ فَعَلَهٗ ۖ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْــئَلُوْهُمْ اِنْ كَا نُوْا يَنْطِقُوْنَ

"Dia (Ibrahim) menjawab, "Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 63)
Maksud perkataan Nabi Ibrahim adalah agar kaumnya mau berpikir, bahwa patung adalah benda mati yang tidak dapat berbicara, sehingga tidak pantas disembah tanpa perlu dijelaskan lagi oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata,
فَرَجَعُوْۤا اِلٰۤى اَنْـفُسِهِمْ فَقَا لُوْۤا اِنَّكُمْ اَنْـتُمُ الظّٰلِمُوْنَ

"Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, "Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri)." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 64)
Yakni, karena meninggalkan patung patung itu tanpa dijaga. Kepala mereka pun menjadi tertunduk, setelah itu mereka berkata kepada Ibrahim,
ثُمَّ نُكِسُوْا عَلٰى رُءُوْسِہِمْ ۚ لَـقَدْ عَلِمْتَ مَا هٰۤؤُلَآ ءِ يَنْطِقُوْنَ

"Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), "Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala berhala) itu tidak dapat berbicara." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 65)
Maksudnya, "Mengapa kamu suruh kami bertanya kepada patung patung itu, sedangkan kamu tahu bahwa mereka tidak bisa bicara."

Ketika itulah Nabi Ibrahim 'alaihissalam berkata,
قَا لَ اَفَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًـا وَّلَا يَضُرُّكُمْ

"Dia (Ibrahim) berkata, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu ?" (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 66)
اُفٍّ لَّـكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

"Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah ! Tidakkah kamu mengerti ?" (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 67)
Inilah jihad pertama para nabi, yaitu jihadul 'ilmi wa iqaamatul hujjah (berdakwah dan menegakkan hujjah), sehingga tidak ada alasan lagi bagi mereka di hadapan Allah nanti.

Ketika kebenaran Nabi Ibrahim telah tampak dan alasan mereka kalah, mereka beralih kepada cara yang lain, yaitu menggunakan "kekerasan" karena Ibrahim telah menghancurkan patung mereka dan menghina sesembahan mereka. Mereka berkata,
قَا لُوْا حَرِّقُوْهُ وَا نْصُرُوْۤا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

"Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah Tuhan Tuhan kamu, jika kamu benar benar hendak berbuat." (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 68)
Maka kaumnya pun mengumpulkan banyak kayu bakar, sampai sampai ada wanita yang sakit bernadzar, kalau seandainya sakitnya sembuh, ia akan ikut mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim.

Mereka meletakkan kayu bakar itu dalam sebuah parit dan menyalakan api di dalamnya hingga menyala besar, lalu mereka meletakkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam sebuah wadah manjeniq (alat pelempar) atas usulan seorang dari daerah Akraad, Persia (Syu'aib Al Jabay berkata, "Namanya adalah Haizan," Allah pun menenggelamkan Haizan ke dalam bumi dan ia tetap berada di dalamnya hingga hari kiamat), setelah itu dilemparlah Nabi Ibrahim 'alaihissalam dalam keadaan terikat dari manjenik itu ke dalam api. Saat itu Nabi Ibrahim 'alaihissalam berkata,
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

"Cukup bagiku Allah, dan Dialah sebaik baik Pelindung."
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma yang diriwayatkan oleh Bukhari. Maka Allah Ta'ala pun menyelamatkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam dengan menjadikan api itu dingin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
قُلْنَا يٰنَا رُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ

"Kami (Allah) berfirman, "Wahai api ! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim," (QS. Al Anbiya 21 : Ayat 69)
Ibnu Abbas dan Abul 'Aliyah berkata,
"Kalau seandainya Allah tidak berfirman "Dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim," tentu dinginnya api tersebut akan menyakiti Nabi Ibrahim."

Ketika itu ada binatang yang ikut membantu meniupkan api untuk membakar Nabi Ibrahim, yaitu wazagh (cicak atau tokek), berdasarkan hadis riwayat Bukhari.

Oleh karena itulah, mengapa Rasulullah ﷺ menyuruh untuk membunuh cicak, dan menjelaskan bahwa membunuhnya sekali pukul akan mendapatkan seratus kebaikan, jika dua kali pukul, pahalanya berkurang, dan seterusnya (Berdasarkan hadis riwayat Muslim).

Setelah Nabi Ibrahim 'alaihissalam selamat dari pembakaran, maka beliau berdakwah kepada Raja negeri tersebut (Babil), yaitu Namrud. Wallahu a'lam !

Bersambung…