Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘Alaihimasssalam V

Kisah Nabi Musa dan Khadhir (Nabi Khidir)

Suatu ketika Nabi Musa berkhutbah di tengah tengah Bani Israil, lalu ia ditanya, "Siapakah manusia yang paling dalam ilmunya ?" Ia menjawab, "Sayalah orang yang paling dalam ilmunya." Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menyalahkannya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian mewahyukan kepada Nabi Musa 'alaihissalam yang isinya, "Bahwa salah seorang hamba di antara hamba hamba-Ku yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan lebih dalam ilmunya dari pada kamu." Nabi Musa 'alaihissalam berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana cara menemuinya ?" Maka dikatakan kepadanya, "Bawalah ikan (yang sudah mati) dalam sebuah keranjang. Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka orang itu berada di sana."

Nabi Musa 'alaihissalam berangkat bersama muridnya, Yusya' bin Nun dengan membawa ikan dalam keranjang. Sehingga ketika mereka berdua berada di sebuah batu besar, keduanya merebahkan kepala dan tidur (di atas batu itu).

Lalu ikan itu lepas dari keranjang dan mengambil jalannya ke laut dan cara perginya membuat Nabi Musa 'alaihissalam dan muridnya merasa aneh. Keduanya kemudian pergi pada sisa malam yang masih ada hingga tiba pagi hari. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ مُوْسٰى لِفَتٰٮهُ لَاۤ اَبْرَحُ حَتّٰۤى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun tahun." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 60)
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَا تَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِى الْبَحْرِ سَرَبًا

"Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 61)
فَلَمَّا جَاوَزَا قَا لَ لِفَتٰٮهُ اٰتِنَا غَدَآءَنَا ۖ لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا

"Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, "Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 62)
قَا لَ اَرَءَيْتَ اِذْ اَوَيْنَاۤ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِ نِّيْ نَسِيْتُ الْحُوْتَ ۖ وَ مَاۤ اَنْسٰٮنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْكُرَهٗ ۚ وَا تَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِيْ الْبَحْرِ عَجَبًا

"Dia (pembantunya) menjawab, "Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 63)
قَا لَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۖ فَا رْتَدَّا عَلٰۤى اٰثَا رِهِمَا قَصَصًا 

"Dia (Musa) berkata, "Itulah (tempat) yang kita cari." Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula," (QS. Al Kahf 18 : Ayat 64)
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

"Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 65)
قَا لَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰۤى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

"Musa berkata kepadanya, "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk ?" (QS. Al Kahf 18: Ayat 66)
قَا لَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

"Dia menjawab, "Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 67)
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا

"Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?" (QS. Al Kahf 18 : Ayat 68)
قَا لَ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ صَا بِرًا وَّلَاۤ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا

"Dia (Musa) berkata, "Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 69)
قَا لَ فَاِ نِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْئَـلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰۤى اُحْدِثَ لَـكَ مِنْهُ ذِكْرًا

"Dia berkata, "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 70)
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَا ۗ قَا لَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَا ۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـئًـا اِمْرًا

"Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, "Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya ? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 71)
قَا لَ اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

"Dia berkata, "Bukankah sudah ku katakan, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku ?" (QS. Al Kahf 18 : Ayat 72)
قَا لَ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا نَسِيْتُ وَلَا تُرْهِقْنِيْ مِنْ اَمْرِيْ عُسْرًا

"Dia (Musa) berkata, "Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 73)
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ ۙ قَا لَ اَقَتَلْتَ نَـفْسًا زَكِيَّةً بِۢغَيْرِ نَـفْسٍ ۗ لَـقَدْ جِئْتَ شَيْـئًـا نُّـكْرًا

"Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, "Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain ? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 74)
قَا لَ اَ لَمْ اَ قُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

"Dia berkata, "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku ?" (QS. Al Kahf 18 : Ayat 75)
قَا لَ اِنْ سَاَ لْـتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصٰحِبْنِيْ ۚ قَدْ بَلَـغْتَ مِنْ لَّدُنِّيْ عُذْرًا

"Dia (Musa) berkata, "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 76)
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَتَيَاۤ اَهْلَ قَرْيَةِ ٱِ سْتَطْعَمَاۤ اَهْلَهَا فَاَ بَوْا اَنْ يُّضَيِّفُوْهُمَا فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَا رًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّـنْقَضَّ فَاَ قَا مَهٗ ۗ قَا لَ لَوْ شِئْتَ لَـتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا

"Maka keduanya berjalan, hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, "Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 77)
قَا لَ هٰذَا فِرَا قُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَ ۚ سَاُ نَـبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا

"Dia berkata, "Inilah perpisahan antara aku dengan engkau, aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 78)
اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَا نَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَ رَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَا وَكَا نَ وَرَآءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا

"Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 79)
وَاَ مَّا الْغُلٰمُ فَكَا نَ اَبَوٰهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَاۤ اَنْ يُّرْهِقَهُمَا طُغْيَا نًا وَّكُفْرًا 

"Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 80)
فَاَ رَدْنَاۤ اَنْ يُّبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكٰوةً وَّاَقْرَبَ رُحْمًا

"Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya dari pada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya)." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 81)
وَاَ مَّا الْجِدَا رُ فَكَا نَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَا نَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَا نَ اَبُوْهُمَا صَا لِحًـا ۚ فَاَ رَا دَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا 

"Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya." (QS. Al Kahf 18 : Ayat 82)

Kisah Sapi Betina

Di zaman Nabi Musa 'alaihissalam terjadi beberapa perkara aneh, di antaranya kisah terbunuhnya salah seorang Bani Israil yang tidak diketahui siapa pembunuhnya. Mereka telah mencari siapa pembunuhnya, namun tetap saja tidak mengetahui siapa pembunuhnya.

Ketika mereka telah bosan mencarinya, maka mereka ingat, bahwa di tengah tengah mereka ada Nabi Musa 'alaihissalam, lalu sebagian mereka mendatanginya dan memintanya untuk berdo'a kepada Allah agar Dia memberitahukan siapa pembunuhnya.

Lalu Nabi Musa 'alaihissalam berdo'a kepada Allah agar menyelesaikan masalah itu, kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa 'alaihissalam agar ia memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi betina.

Saat mereka mendengar perintah itu, mereka heran dan menyangka bahwa hal itu hanya mengolok olok mereka. Sehingga Bani Israil tidak segera melaksanakan perintah itu, bahkan kembali bertanya tentang sifat sifat sapi betina itu dan meminta penjelasan lebih rinci tentang sifat sifatnya.

Karena mereka tidak segera melaksanakan perintah itu, bahkan membebani diri dengan bertanya lebih rinci sifat sifatnya. Sehingga mereka diberi beban dengan beban yang lebih berat, diberitahukan kepada mereka sifat sifatnya yang berbeda dengan sapi betina lainnya.

Allah menyuruh mereka menyembelih sapi yang tidak muda dan tidak tua yang sudah banyak melahirkan, tetapi sapi itu masih kuat seperti yang baru melahirkan sekali atau dua kali.

Kalau mereka langsung mengerjakan, tentu akan mudah mendapatkannya, tetapi mereka malah bertanya lagi kepada Nabi Musa 'alaihissalam tentang sifat sifatnya. Mereka bertanya apa warnanya, maka Nabi Musa 'alaihissalam menjawab,
قَا لَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَآءُ ۙ فَا قِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النّٰظِرِيْنَ

"Dia (Musa) menjawab, "Dia (Allah) berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang orang yang memandang(nya)." (QS. Al Baqarah 2 : Ayat 69)
Mereka pun terus bertanya tentang sapi betina itu sehingga mereka dibebani dengan beban yang lebih berat lagi, yaitu dengan perintah Nabi Musa 'alaihissalam berikutnya,
قَا لَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُوْلٌ تُثِيْرُ الْاَ رْضَ وَلَا تَسْقِى الْحَـرْثَ ۚ مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيْهَا ۗ قَا لُوا الْئٰـنَ جِئْتَ بِا لْحَـقِّ ۗ فَذَبَحُوْهَا وَمَا كَا دُوْا يَفْعَلُوْنَ

"Dia (Musa) menjawab, "Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang." Mereka berkata, "Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya." Lalu, mereka menyembelihnya dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu." (QS. Al Baqarah 2 : Ayat 71)
Selanjutnya Nabi Musa 'alaihissalam mendekati sapi itu dan mengambil bagian anggota badannya. Kemudian ia gunakan untuk memukul orang yang terbunuh itu, maka tiba tiba orang yang terbunuh itu dapat bergerak setelah Allah mengembalikan ruhnya kepadanya. Kemudian ia memberitahukan siapa pembunuhnya, yaitu putra saudaranya, kemudian ia pun mati lagi. Ini termasuk mukjizat besar dari Allah untuk menunjukkan kebenaran Nabi Musa 'alaihissalam.

Kisah Nabi Musa dengan Qarun

Qarun termasuk kaum Nabi Musa 'alaihissalam. Ia adalah seorang yang kaya, harta dan simpanannya banyak, bahkan kunci kunci simpanan kekayaannya tidak dapat dibawa kecuali oleh orang orang yang kuat.

Akan tetapi, Qarun mendurhakai Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihimassalam, ia tidak menerima nasihat keduanya, dan ia menyangka bahwa harta dan kenikmatan yang didapatkannya adalah karena ia berhak memilikinya dan bahwa ia memperolehnya karena ilmunya.

Suatu hari, Qarun keluar ke Madinah dengan perhiasan yang besar dan perlengkapan yang banyak sambil memakai pakaian yang bagus. Ketika ia melewati manusia, maka sebagian manusia mendekatinya untuk memberinya nasihat dengan berkata,
اِذْ قَا لَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

"(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri." (QS. Al Qasas 28 : Ayat 76)
وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al Qasas 28 : Ayat 77)
Maka Qarun menolak nasihat itu dengan sombong, ia berkata,
قَا لَ اِنَّمَاۤ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْ

"Dia (Qarun) berkata, "Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al Qasas 28 : Ayat 78)
Ia menyangka bahwa harta yang diperolehnya ini karena kecerdasan dan kemampuannya.

Suatu ketika Qarun keluar ke hadapan manusia dengan satu iring iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan segala kemewahannya untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya.

Saat itu, sebagian manusia ada yang terfitnah (terpukau) dengan kekayaan dan perhiasan Qarun, mereka ingin sekiranya mempunyai seperti yang dimiliki Qarun, tetapi orang orang saleh di antara mereka berkata,
وَقَا لَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَـكُمْ ثَوَا بُ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّمَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَا لِحًـا ۚ وَلَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا الصّٰبِرُوْنَ

"Tetapi orang orang yang dianugerahi ilmu berkata, "Celakalah kamu ! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang orang yang sabar." (QS. Al Qasas 28 : Ayat 80)
Ketika Qarun terus bersikap sombong dan congkak, maka Allah benamkan Qarun dan rumahnya ke dalam bumi, dan tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya, dan ketika itu, orang orang yang kemarin mencita citakan kedudukan Qarun itu, berkata,
وَاَ صْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَـنَّوْا مَكَا نَهٗ بِا لْاَ مْسِ يَقُوْلُوْنَ وَيْكَاَ نَّ اللّٰهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِهٖ وَيَقْدِرُ ۚ لَوْلَاۤ اَنْ مَّنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۗ وَيْكَاَ نَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ

"Dan orang orang yang kemarin mengangan angankan kedudukannya (Qarun) itu berkata, "Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang orang yang mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Al Qasas 28 : Ayat 82)

Wafatnya Nabi Musa 'Alaihissalam

Rasulullah ﷺ menceritakan tentang wafatnya Nabi Musa 'alaihissalam,
جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ. فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا، قَالَ فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي، قَالَ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ: الْحَيَاةَ تُرِيدُ؟ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ، فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ، فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً، قَالَ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: ثُمَّ تَمُوتُ، قَالَ: فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ، رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ، رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَاللهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ»

"Malaikat maut datang kepada Nabi Musa 'alaihissalam, lalu malaikat itu berkata kepadanya, "Penuhilah Tuhanmu." Maka Nabi Musa 'alaihissalam segera memukul mata malaikat maut dan mencoloknya.

Kemudian malaikat itu kembali kepada Allah Ta'ala dan berkata, "Engkau mengirimku kepada seorang hamba yang tidak mau mati, dan ia telah mencolok mataku."

Lalu Allah Ta'ala mengembalikan matanya dan berfirman, "Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan, "Apakah engkau ingin hidup ? Jika engkau ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di atas punggung sapi, maka hidupmu sampai waktu sebanyak bulu yang tertutup tanganmu. Engkau masih dapat hidup setahun."

Kemudian Nabi Musa 'alaihissalam berkata, "Selanjutnya apa ?"

Allah Ta'ala berfirman, "Selanjutnya engkau mati."

Nabi Musa 'alaihissalam berkata, "Kalau begitu sekaranglah segera. Wahai Tuhanku, matikanlah aku di dekat negeri yang suci yang jaraknya sejauh lemparan batu."

Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Allah, kalau sekiranya aku berada dekat sana, tentu aku akan memberitahukan kalian kuburnya di pinggir jalan, di dekat bukit pasir merah." (HR. Muslim)
Disebutkan dalam riwayat, bahwa para malaikat yang mengurus pemakamannya dan yang menshalatinya. Ketika itu, usianya 120 tahun.