Malaikat Rahmat

Malaikat Rahmat merupakan para malaikat penyebar keberkahan, rahmat, permohonan ampun, dan pembawa roh orang orang shaleh, ia datang bersama dengan Malaikat Maut dan Malaikat 'Adzab.

Malaikat Rahmat (Arab: ملاك الرحمة) adalah para malaikat yang bertugas mendo'akan ampunan dan menjemput ruh orang beriman ketika ajalnya tiba. Para malaikat itu ketika menjemput ruh orang beriman, memiliki wajah yang putih bercahaya seperti matahari dengan membawa kain sutra (kain kafan) berwarna putih dari surga yang beraroma harum.¹

Malaikat tersebut dikisahkan, pernah beradu argumen dengan Malaikat Azab tentang seorang pembunuh yang telah melenyapkan 100 jiwa, apakah ia akan dimasukkan kedalam surga atau neraka. Kemudian Malaikat Rahmat lah yang berhasil membawa ruh pembunuh yang telah bertaubat tersebut.² ³

Malaikat Rahmat dijelaskan di dalam Al Qur'an Surah Al Mursalat, kata Al Mursalat memiliki arti "Para Malaikat yang di utus,"
وَّا لنّٰشِرٰتِ نَشْرًا 

"Dan (malaikat malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas luasnya," (QS. Al Mursalat 77: Ayat 3)

Footnote

[1] Hadits shahih dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh An Nasa'i dalam Sunan An Nasa'i, Ibnu Hibban dalam Shahih Ibni Hibban, Al Hakim dalam Al Mustadrak, dan Ash Shahihah.

[2] Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaq 'alaih) dari Abu Said, yaitu Sa'ad bin Sinan Al Khudri. Kitab Riyadh Ash Shalihin, Imam An Nawawi, Bab Taubat. Abu Said Al Khudri berkata, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
"Di antara umat sebelum kamu sekalian terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatangi pendeta tersebut dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah tobatnya akan diterima ? Pendeta itu menjawab, "Tidak !" Lalu dibunuhnya lah pendeta itu, sehingga melengkapi seratus pembunuhan.

Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu lalu ditunjukkan kepada seorang alim yang segera dikatakan kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah tobatnya akan diterima ? Orang alim itu menjawab, "Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi tobat seseorang ! Pergilah ke negeri anu dan anu, karena di sana terdapat kaum yang selalu beribadah kepada Allah. Lalu sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh dengan kejahatan !"

Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah mencapai setengah perjalanan, datanglah maut menjemputnya. Berselisih lah Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab tentangnya.

Malaikat Rahmat berkata, "Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadap sepenuh hati kepada Allah."

Malaikat Adzab berkata, "Dia belum pernah melakukan satu perbuatan baik pun."

Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia berkata, "Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi miliknya."

Lalu mereka pun mengukurnya dan mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju, sehingga diambil lah ia oleh Malaikat Rahmat." (HR. Muslim)
[3] Az Zuhd, 'Abdullah Ibnul Mubarak.