Kisah Bani Israil Yang Hidup Kembali

Kisah ini adalah sebuah kisah yang penuh pelajaran yang menyadarkan kita bahwa seseorang tidak akan luput dari ketetapan takdir Allah ﷻ bagaimanapun kuat usahanya. Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk berusaha, namun hasilnya tetap di tangan-Nya. Keadaan ini membuat diri kita menjadi rendah hati dan tidak tinggi. Hati akan selalu bergantung kepada-Nya.

Allah ﷻ berfirman,
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ ۖ فَقَا لَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْا ۗ ثُمَّ اَحْيَاھُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّا سِ وَلٰـكِنَّ اَکْثَرَ النَّا سِ لَا يَشْکُرُوْنَ

"Tidakkah kamu memperhatikan orang krang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati ? Lalu, Allah berfirman kepada mereka, "Matilah kamu !" Kemudian, Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (QS. Al-Baqarah 2 : Ayat 243)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa kisah ini terjadi di masa bani Israil. Tentang eksodus penduduk Desa Dawirdan (Arab: داوردان), ada yang menyebut Desa Adzri'at (Arab: أذرعات), yang lari dari wabah penyakit Tha'un yang melanda negeri mereka. Jumlah mereka sangat besar, sekitar 4000 atau 8000 orang, bahkan ada yang mengatakan 30.000 atau 40.000 orang.

Mereka lari untuk menghindari wabah Tha'un yang mematikan, mencari tempat yang aman untuk melipat gandakan usia. Akhirnya tibalah mereka di suatu dataran rendah yang bersih dari wabah. Lahan baru itu pun menjadi padat dengan kedatangan mereka.

Lalu Allah ﷻ mengutus dua malaikat, yang satu berada di atas lembah tempat mereka tinggal, dan yang satu lagi di bagian bawah. Lalu kedua malaikat itu berteriak sekali pekikan, hingga wafatlah semua pengungsi tersebut.

Beberapa masa telah berlalu, tubuh ribuan manusia yang terkubur itu telah menjadi tengkorak dan tulang belulang. Allah ﷻ jadikan satu rangkaian tulang dari satu tubuh menjadi tercerai berai. Bagian atas tertanam di suatu tempat, sementara bagian yang lainnya berada jauh di tempat yang lain. Demikianlah keadaannya, bahkan manusia pun sulit untuk mengumpulkan dan merangkai kembali rangka mereka. Lalu lewatlah salah seorang nabi dari nabi nabi Allah ﷻ. Ia memohon kepada Allah ﷻ agar menghidupkan mereka kembali, maka Allah ﷻ pun mengabulkan doanya.

Atas perintah Allah ﷻ, tulang belulang yang tercerai berai itu kembali pada anggota yang lainnya. Berkumpul, kembali menempati posisinya hingga terbentuklah rangka manusia. Allah ﷻ perintahkan tulang tulang itu terbungkus dengan daging, urat urat, dan kulit.

Imam Ibnu Katsir menukilkan riwayat dari salah seorang salaf bahwa nabi itu menyaksikan kejadian menakjubkan tersebut. Kemudian Allah ﷻ perintahkan juga ruh ruh mereka kembali ke jasad jasadnya. Mereka pun hidup kembali. Orang orang itu merasa bahwa mereka telah dibangunkan dari tidur yang amat panjang.

Kemudian mereka berkata,
"Maha Suci Engkau (Ya Allah ya Rabb kami dan segala puji bagi-Mu), tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali diri-Mu."

Terdapat sebuah atsar shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma,
"Suatu ketika Umar bin Al-Khathab keluar bersafar menuju Syam. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan Abu Ubaidah ibnul Jarah dan sahabat sahabatnya yang memberitakan bahwa Syam sedang terserang wabah penyakit.

Kemudian Abdurrahman bin Auf berkata, "Sungguh aku punya pengetahuan tentang masalah ini." Abdurrahman punya solusi, langkah apa yang harus diambil Umar. Apakah melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah.

Kata Abdurrahman bin Auf, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila suatu wabah penyakit berada di tempat kalian, janganlah kalian lari dari wabah itu. Dan jika kalian mendengar suatu daerah terserang wabah penyakit, janganlah kalian memasukinya." (HR. Ahmad)

Umar pun memuji Allah, kemudian kembali ke Kota Madinah.

Dalam riwayat lain, Abdurrahman bin Auf memberi tahu Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Wabah penyakit pernah mengadzab kaum sebelum kalian. Apabila kalian mendengar suatu tempat terserang wabah jangan kalian masuki tempat itu. Namun jika tempat kalian yang terwabahi, janganlah kalian lari darinya." Umar pun kembali menuju Madinah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah,

Pertama, kisah yang termaktub dalam ayat ini mengajarkan kita bahwa tidak ada tempat bergantung kecuali hanya kepada Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa lepas dan membebaskan diri dari takdir-Nya. Orang orang lari dari kampung mereka, menghindari wabah, agar panjang usia. Namun siapa sangka, jalan yang mereka tempuh malah mendekatkan diri mereka kepada kematian.

Kedua, terkadang usaha itu tidak mesti berbuah hasil, jika demikian mengapa harus menempuh usaha yang haram. Seseorang yang korupsi ingin menumpuk harta menjadi kaya. Bisa jadi ia kaya, tidak sedikit juga yang masuk kedalam penjara. Seorang pemuda menempuh pacaran untuk memperistri gadis idaman, bisa jadi ia dapatkan dan bisa jadi juga ia ditinggalkan. Demikian juga sekelompok besar orang dari bani Israil ini, mereka berniat lari dari kematian, bisa jadi mereka selamat dan bisa jadi mereka wafat. Namun Allah ﷻ telah tetapkan mereka wafat sebagai pelajaran untuk mereka dan kita semua.

Ketiga, sebagaimana Allah ﷻ mampu menghidupkan manusia untuk kali kedua di dunia, ruh dan jasad mereka, demikian juga di hari kebangkitan kelak. Allah ﷻ mampu atas segala sesuatunya.

Keempat, tidak boleh seseorang lari dari jihad karena takut mati, sebagaimana lari dari wabah mematikan belum tentu menyelamatkan. Demikian juga mendatangi sesuatu yang mengancam nyawa belum tentu mendatangkan kematian.

Kelima, kisah diatas juga mengajarkan bahwa mengeluarkan harta di jalan Allah ﷻ tidaklah berujung dengan kemiskinan atau kekurangan. Sebagaimana Allah ﷻ telah berfirman,
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗۤ اَضْعَا فًا کَثِيْرَةً ۗ وَا للّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ ۖ وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

"Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. Al-Baqarah 2 : Ayat 245)

Mudah mudahan kisah ini semakin memikat hati kita untuk mengkaji ayat ayat Al-Qur'an dan membuat kita cinta serta nikmat untuk membacanya.
LihatTutupKomentar