Kisah Nabi Nuh Alaihis Salam

Kisah Nabi Nuh

Nabi Nuh adalah nabi ke empat sesudah Adam, Syith, dan Idris serta keturunan ke sembilan dari Nabi Adam Alaihis Salam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin Idris.

Dakwah Nabi Nuh Kepada Kaumnya

Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam masa "fatrah", yaitu masa kekosongan di antara dua rasul di mana biasanya manusia secara berangsur angsur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan kembali bersyirik meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran, dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.

Demikianlah, maka kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi Nuh datang di tengah tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala (patung patung yang dibuat oleh tangan tangan mereka sendiri), disembahnya sebagai tuhan tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan.

Berhala berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu diberinya nama nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera kebodohan mereka.

Kadang kadang mereka namakan berhala mereka dengan nama "Wadd" dan "Suwa", kadangkala di beri nama "Yaguts", dan bila sudah bosan digantinya dengan nama "Yatuq" dan "Nasr".
Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis itu, mengajak mereka meninggalkan syirik, dan penyembahan berhala, serta kembali kepada tauhid, yaitu menyembah Allah Tuhan sekalian alam, melakukan ajaran ajaran agama yang diwahyukan kepadanya, dan meninggalkan kemungkaran serta kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.

Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh Allah berupa langit dengan matahari, bulan dan bintang bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, berupa tumbuh tumbuhan dan air mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, penggantian malam menjadi siang dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.

Di samping itu, Nabi Nuh juga memberitakan kepada mereka bahwa akan ada ganjaran yang akan diterima oleh manusia atas segala amalannya di dunia, yaitu syurga bagi amalan kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadap perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.

Nabi Nuh yang dikaruniakan Allah dengan sifat sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak tanduk melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan, dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka, dan kadang kala dengan kata kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.

Akan tetapi, walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tenaga berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecakapan, dan kesabaran, serta dalam setiap kesempatan, siang maupun malam dengan cara berbisik bisik atau cara terang dan terbuka, ternyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya.

Menurut sebagian riwayat tidak melebihi bilangan seratus orang, mereka pun terdiri dari orang orang yang miskin berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang yang kaya raya, berkedudukan tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar pembesar dan penguasa penguasa tetap membangkang.

Mereka tidak mempercayai Nabi Nuh, mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala berhala mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan untuk melumpuhkan dan menggagalkan usaha dakwah Nabi nuh.

Berkata mereka (pembesar dan penguasa) kepada Nabi Nuh,
"Bukankah engkau hanya seorang dari pada kami dan tidak berbeda dari pada kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan mengutus seorang rasul yang membawa perintah-Nya, niscaya Ia akan mengutus seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau yang hanya dapat diikuti oleh orang orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani (orang orang yang tidak berpenghasilan) yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat. Pengikut pengikutmu itu adalah orang orang yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta dan tuli tanpa memikirkan dan menimbang benar atau tidaknya dakwah serta ajakanmu itu. Coba agama yang engkau bawa dan ajaran ajaran yang engkau salurkan kepada kami itu betul betul benar, niscaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya orang orang yang mengemis pengikut pengikutmu itu. kami sebagai pemuka pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak, dan pandangan yang luas serta yang dipandang oleh masyarakat sebagai pemimpin pemimpinnya, tidaklah mudah kami menerima ajakanmu dan dakwahmu. Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soal soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup. Kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui dari padamu tentang hal itu semuanya. Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan bahwa engkau adalah pendusta belaka."
Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok olokan kaumnya,
"Adakah engkau mengira bahwa aku dapat memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakan ku dan tetap buta serta tuli terhadap bukti bukti kebenaran dakwahku dan tetap mempertahakan pendirianmu yang tersesat yang di ilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta benda yang kamu miliki ? Aku hanya seorang manusia yang mendapat amanah dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mau kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku, maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan ganjaran-Nya keatas diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanah-Nya kepada hamba hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan siksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki. Dialah pula yang berkuasa menurunkan siksa dan azab-Nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang."
Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata,
"Wahai Nuh ! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang orang petani, buruh, dan hamba hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pergaulanmu, karena kami tidak dapat bergaul dengan mereka, duduk berdampingan dengan mereka, mengikut cara hidup mereka, dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dapat menerima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan buruh buruhnya, serta orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan papa."
Nabi Nuh menolak persyaratan kaumnya dan berkata,
"Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai maupun yang bodoh, yang kaya maupun miskin, majikan ataupun buruh. Diantara penguasa dan rakyat biasa, semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap agama dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi persyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu, menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dapat ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan dari pada ku orang orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dapat mempertanggung jawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahwa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada persyaratannya yang tidak wajar dan tidak dapat diterima oleh akal dan fikiran yang sehat. Sesungguhnya kamu adalah orang orang yang bodoh dan tidak berfikiran sehat."
Pada akhirnya, karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka,
"Wahai Nabi Nuh ! Kita telah banyak bermujadalah, berdebat, dan cukup berdialog, serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertenggang lidah dengan kami. Datangkanlah apa yang engkau benar benar orang yang menepati janji dan kata katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu."

Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya

Nabi Nuh berada di tengah tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala, kembali menyembah, dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa.

Nabi Nuh memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajarkan mereka hukum hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mengangkat derajat manusia yang tertindas serta lemah ke tingkat yang sesuai dengan fitrah dan qudratnya, berusaha menghilangkan sifat sifat sombong dan bongkak yang melekat pada para pembesar kaumnya, dan mendidik agar mereka berkasih sayang serta tolong menolong diantara sesama manusia.

Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyadarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya untuk beriman, bertauhid, dan beribadah kepada Allah, kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seratus orang.

Walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya usahanya dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi penghinaan, ejekan, dan cercaan makian kaumnya. Karena ia mengharapkan akan datang masanya di mana kaumnya akan sadar diri dan datang mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya.

Harapan Nabi Nuh akan kesadaran kaumnya ternyata makin hari makin berkurang dan bahwa sinar iman dan takwa tidak akan menembus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis.

Maka lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru,
"Ya Allah ! Janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mereka akan berusaha menyesatkan hamba hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal, mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak anak yang berbuat maksiat dan anak anak yang kafir seperti mereka."
Doa Nabi Nuh dikabulkan oleh Allah, permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan serta mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam.

Nabi Nuh Membuat Kapal

Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut.

Kemudian, dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya, mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.

Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan dalam menyelesaikan pembuatan kapalnya, namun ia tidak luput dari ejekan dan cemoohan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membuat kapal itu.

Mereka mengejek dan mengolok olok Nabi Nuh dengan mengatakan,
"Wahai Nuh ! Sejak kapan engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal ? Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal. Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air, ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang akan menarik kapalmu ke laut ?"
Dan lain lain kata ejekan yang diterima, oleh Nabi Nuh dibalas dengan sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab,
"Baiklah, tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekarang mengejek dan mengolok olok kami, maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri kamu."
Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
"Siap siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda tanda daripada-Ku, maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu, kerabatmu, dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi, lalu belayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekejap mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang rendah maupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit bukit.

Sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu, kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.

Dengan iringan doa "Bismillahi majraha wa mursaha," belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut.

Di kanan kiri kapal terlihatlah orang orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung, berusaha menyelamat diri dari cengkraman maut yang sudah siap menerkam mereka di dalam lipatan gelombang gelombang itu.

Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat lihat orang orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba tiba terlihatlah olehnya tubuh putra sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang orang yang sedang menerima hukuman Allah itu.

Pada saat itu tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putra kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.

Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil putranya seraya berkata,
"Wahai anakku ! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah."
Kan'aan, putra Nabi Nuh yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata kata yang menentang,
"Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu, aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini."
Nabi Nuh menjawab,
"Percayalah, bahwa tempat satu satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini, kecuali orang orang yang memperoleh rahmat dan ampunan-Nya."
Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata katanya, tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, ia tergelincir ke bawah lautan air mengikuti kawan kawannya dan pembesar pembesar kaumnya yang durhaka itu.

Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian putranya dalam keadaan kafir, tidak beriman dan belum mengenal Allah.

Beliau berkeluh kesah dan berseru kepada Allah,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."
Kepadanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Wahai Nuh ! Sesungguhnya dia putramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu, menolak dakwahmu, dan mengikuti jejak orang orang yang kafir dari pada kaummu. Coretlah namanya dari daftar keluargamu. Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu, mengikuti jalanmu, dan beriman kepada-Ku yang dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun orang orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu, dan telah mengikuti hawa nafsu dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan, janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang orang yang bodoh."
Nabi Nuh sadar segera setelah menerima teguran dari Allah, bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang orang kafir termasuk putranya sendiri.

Ia sadar bahwa ia tersesat pada saat ia memanggil putranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan putranya, padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta benda.

Ia sangat sesalkan kelalaian dan kelupaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampun serta maghfirahnya dengan berseru,
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kelupaanku, sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku, bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku menjadi orang yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah. Kemudian surutlah lautan air diserap bumi lalu bertambatlah kapal Nabi Nuh di atas bukit "Judie" dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh,
"Turunlah wahai Nuh ke darat, engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi berkah dan inayah dari sisi-Ku, bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."

Kisah Nabi Nuh Dalam Al Quran

Al Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surah, di antaranya Quran Surah Nuh dari ayat 1 sampai 28, juga dalam Quran Surah Hud ayat 27 sampai 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka.

Pelajaran Dari Kisah Nabi Nuh Alaihis Salam

Bahwasannya hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan atau penamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan dari pada hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran.

Kan'aan yang walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya, karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.

Maka dalam pengertian inilah dapat difahami tentang firman Allah dalam Al Quran yang artinya,
"Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara."
Demikian pula dalam hadits Rasulullah ﷺ yang artinya,
"Tidaklah sempurna iman seseorang, kecuali jika ia mencintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."
Juga dalam pribahasa yang berbunyi,
"Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu."
Kata Kunci:
kisah nabi nuh singkat, kisah nabi nuh lengkap dari lahir sampai wafat, kisah nabi nuh singkat untuk anak, kisah nabi nuh singkat brainly, kisah nabi nuh dalam al quran, kisah nabi nuh asli, kisah nabi nuh membuat kapal,kisah nabi nuh as, kisah nabi nuh as dari lahir sampai wafat, kisah nabi nuh alaihi wasallam, kisah nabi nuh air bah, kisah nabi nuh as singkat brainly, kisah nabi nuh anak, kisah nabi nuh a.s, kisah nabi nuh brainly, kisah nabi nuh berdakwah kepada kaumnya selama berapa tahun, kisah nabi nuh beserta mukjizatnya, kisah nabi nuh beserta dalilnya, kisah nabi nuh banjir besar, kisah nabi nuh buat kapal, kisah nabi nuh cerita anak, cerita kisah nabi nuh, cerita kisah nabi nuh singkat, cermati kisah nabi nuh a.s tersebut dan coba analogikan, ceritakan kisah nabi nuh secara singkat, cerpen kisah nabi nuh, cerita kisah nabi nuh lengkap, ceramah kisah nabi nuh, kisah nabi nuh dari lahir sampai meninggal, kisah nabi nuh dan anaknya, kisah nabi nuh dan istrinya, kisah nabi nuh dan mukjizatnya, kisah nabi nuh as untuk anak, kisah nabi nuh as dalam al quran, kisah nabi nuh as membuat bahtera kapal raksasa, kisah nabi nuh as secara singkat, kisah nabi nuh mendapat gelar ulul azmi, ok google kisah nabi nuh, god's prophets kisah nabi nuh, kisah nabi nuh dan hikmahnya, kisah nabi nuh singkat dan hikmahnya, kisah nabi nuh dari lahir hingga wafat, hikmah kisah nabi nuh brainly, kisah hidup nabi nuh, kisah hidup nabi nuh dalam alkitab, kisah hidup nabi nuh lengkap, kisah nabi nuh islam, kisah nabi nuh dalam islam, kisah nabi nuh dan iblis, kisah nabi nuh lengkap, kisah nabi nuh kapal, kisah nabi nuh kapal besar, kisah nabi nuh kelas 1, kisah nabi nuh kelas 1 sd, kisah nabi nuh kanak kanak, kisah nabi nuh lengkap pdf, kisah nabi nuh lengkap dan singkat, kisah nabi nuh lengkap singkat, kisah nabi nuh menurut al quran, kisah nabi nuh muslim.or.id, kisah nabi nuh membuat bahtera, kisah nabi nuh menurut islam, kisah nabi nuh nu, kisah nabi nuh dan anak nya, kisah nabi nabi nuh, kisah nyata nabi nuh, kisah nabi nuh pdf, kisah nabi nuh perahu, kisah nabi nuh pendek, kisah nabi nuh panjang, kisah nabi nuh rumaysho, kisah nabi nuh ringkasan, kisah nabi nuh ringkas, kisah nabi nuh sebagai rasul ulul azmi, kisah nabi nuh yang ringkas, kisah nabi nuh menjadi rasul ulul azmi, kisah nabi nuh singkat padat dan jelas, kisah nabi nuh sesuai sunnah, kisah nabi nuh setelah banjir, kisah nabi nuh secara lengkap, kisah nabi nuh terdapat dalam surah, kisah nabi nuh terjadi pada tahun, kisah nabi nuh terdapat dalam alquran, kisah nabi nuh tenggelam, kisah nabi nuh terdapat pada surat, kisah nabi nuh untuk anak, kisah nabi nuh ulul azmi, kisah nabi nuh untuk anak singkat, kisah nabi nuh ustadz firanda, kisah nabi nuh untuk kanak kanak, kisah nabi nuh untuk sd, kisah nabi nuh versi anak, kisah nabi nuh versi islam, kisah nabi nuh versi islam dan kristen, kisah nabi nuh wikipedia, kisah nabi nuh wafat, kisah nabi nuh lahir sampai wafat, kisah wafatnya nabi nuh, www.kisah nabi nuh tuliskan secara singkat kisah nabi nuh alaihi wasallam, kisah nabi nuh as lengkap, kisah cerita nabi nuh, kisah nabi nuh yang singkat, kisah nabi nuh yang lengkap, kisah nabi nuh yang mendapat gelar ulul azmi, kisah nabi nuh yang dapat kita teladani, kisah nabi nuh yang jarang diketahui, kisah nabi nuh zainudin mz, kisah nabi nuh kh zainudin mz, kisah nabi nuh kh zainuddin mz, kisah zaman nabi nuh, kisah banjir zaman nabi nuh, kisah sepanjang zaman nabi nuh, ceramah zainudin mz kisah nabi nuh, kisah nabi nuh 10 muharram, kisah nabi nuh (qs.hud 25-49), 3 hikmah kisah nabi nuh
LihatTutupKomentar