Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Dahulu, ada beberapa orang saleh bernama Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr yang dicintai oleh masyarakat¹. Ketika mereka wafat, maka masyarakat merasa sedih karena kehilangan mereka, saat itulah setan memanfaatkan kesedihan itu dengan membisikkan mereka agar membuatkan patung patung dengan nama nama mereka untuk mengenang mereka. Akhirnya, masyarakat pun melakukannya.

¹ Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Ibnu Juraij dari Atha dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, "Dan mereka berkata, "Jangan sekali kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan tuhan kamu dan jangan pula sekali kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq, dan nasr." Ia (Ibnu Abbas) berkata, "Ini adalah nama nama orang Saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaum mereka untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama nama mereka. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, dan ilmu telah tiada, maka berhala berhala itu pun disembah."

Waktu pun berlalu, namun patung patung itu belum disembah sampai mereka yang membuat patung patung itu meninggal dan datanglah anak cucu mereka yang kemudian disesatkan oleh setan. Setan menjadikan mereka menganggap bahwa patung patung itu adalah sesembahan mereka.

Mereka pun menyembah patung patung itu dan mulai saat itu tersebarlah kesyirikkan di tengah tengah mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat seorang laki laki di kalangan mereka sebagai nabi dan Rasul-Nya, yaitu Nuh ‘alaihissalam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya di antara sekian makhluk-Nya, Dia mewahyukan kepadanya agar mengajak kaumnya menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan meninggalkan sesembahan sesembahan selain-Nya. Mulailah Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah, ia berkata kepada mereka,
لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَا لَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَـكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗ اِنِّيْۤ اَخَا فُ عَلَيْكُمْ عَذَا بَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

"Sungguh, Kami benar benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, "Wahai kaumku ! Sembahlah Allah ! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)." (QS. Al A'raf 7 : 59)
Maka di antara kaumnya ada yang mengikuti ajakannya, mereka terdiri dari kaum fakir dan dhu’afa (lemah). Adapun orang orang kaya dan kuat, maka mereka menolak dakwahnya, sebagaimana istrinya dan salah satu anaknya juga menolak dakwahnya. Mereka yang menolak dakwahnya menentangnya dan berkata kepadanya,
فَقَا لَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ مَا نَرٰٮكَ اِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرٰٮكَ اتَّبَعَكَ اِلَّا الَّذِيْنَ هُمْ اَرَا ذِلُــنَا بَا دِيَ الرَّأْيِ ۚ وَمَا نَرٰى لَـكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍۢ بَلْ نَظُنُّكُمْ كٰذِبِيْنَ

"Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, "Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta." (QS. Hud 11 : 27)
Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak berputus asa terhadap sikap kaumnya yang menolak dakwahnya, ia terus mengajak mereka di malam dan siang hari, menasihati mereka secara rahasia dan terang terangan, menjelaskan kepada mereka dengan lembut hakikat dakwah yang dibawanya, tetapi mereka tetap saja kafir kepadanya, tetap saja sombong, dan melampaui batas, serta terus membantah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan keadaan itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Mereka juga menyakitinya, menghinanya, dan memerangi dakwahnya.

Pernah suatu ketika, sebagian orang orang kaya mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam dan meminta kepadanya untuk mengusir orang orang fakir yang beriman kepadanya, agar orang orang kaya ridha dan mau duduk bersamanya sehingga bisa beriman kepadanya, namun Nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab,
وَيٰقَوْمِ لَاۤ اَسْــئَلُكُمْ عَلَيْهِ مَا لًا ۗ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ بِطَا رِدِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ اِنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَلٰـكِنِّيْۤ اَرٰٮكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُوْنَ

"Dan wahai kaumku ! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sungguh, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh." (QS. Hud 11 : 29)
وَيٰقَوْمِ مَنْ يَّـنْصُرُنِيْ مِنَ اللّٰهِ اِنْ طَرَدۡتُّهُمْ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

"Dan wahai kaumku ! Siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka ? Tidakkah kamu mengambil pelajaran ?" (QS. Hud 11: Ayat 30)
قَا لَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهٖۤ اِنَّا لَـنَرٰٮكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

"Pemuka pemuka kaumnya berkata, "Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al A'raf 7 : 60)
قَا لَ يٰقَوْمِ لَـيْسَ بِيْ ضَلٰلَةٌ وَّلٰـكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

"Dia (Nuh) menjawab, "Wahai kaumku ! Aku tidak sesat, tetapi aku ini seorang rasul dari Tuhan seluruh alam." (QS. Al A'raf 7 : 61)
اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَ نْصَحُ لَـكُمْ وَاَ عْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

"Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al A'raf 7 : 62)
Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap bersabar berdakwah kepada kaumnya, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun dilaluinya, tetapi yang mau mengikuti seruannya hanya beberapa orang saja. Bahkan ketika Nabi Nuh mendatangi sebagian mereka, mengajak mereka agar menyembah Allah dan beriman kepada-Nya, mereka menaruh anak jarinya ke telinga mereka agar tidak mendengar kata kata Beliau.

Dan ketika Beliau pergi kepada yang lain sambil menyebutkan kepada mereka nikmat nikmat Allah yang diberikan kepada mereka serta menceritakan tentang penghisaban pada hari Kiamat, mereka menaruh baju mereka di wajah mereka agar tidak melihat Beliau, dan hal ini berlangsung terus menerus hingga akhirnya orang orang kafir berkata kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam,
قَا لُوْا يٰـنُوْحُ قَدْ جَا دَلْتَـنَا فَاَ كْثَرْتَ جِدَا لَـنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ

"Mereka berkata, "Wahai Nuh ! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar." (QS. Hud 11 : 32)
قَا لَ اِنَّمَا يَأْتِيْكُمْ بِهِ اللّٰهُ اِنْ شَآءَ وَمَاۤ اَنْتُمْ بِمُعْجِزِيْنَ

"Dia (Nuh) menjawab, "Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri." (QS. Hud 11 : 33)
وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِيْۤ اِنْ اَرَدْتُّ اَنْ اَنْصَحَ لَكُمْ اِنْ كَا نَ اللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يُّغْوِيَكُمْ ۗ هُوَ رَبُّكُمْ ۗ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

"Dan nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu sekalipun aku ingin memberi nasihat kepadamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. Hud 11 : 34)
Maka Nabi Nuh pun bersedih karena kaumnya tidak mau memenuhi ajakannya, bahkan sampai meminta agar disegerakan azab untuk mereka. Meskipun begitu, Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak berputus asa, dia tetap berharap kiranya ada di antara mereka yang mau beriman.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun pun berganti dengan tahun berikutnya, tetapi ajakan Beliau tidak membawa hasil, Beliau berdakwah kepada kaumnya dalam waktu yang cukup lama, yaitu 950 tahun sebagaimana yang difirmankan Allah,
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَ لْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَا مًا ۗ فَاَ خَذَهُمُ الطُّوْفَا نُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

"Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang orang yang zalim." (QS. Al 'Ankabut 29 : 14)
Namun, sedikit sekali yang mau beriman kepadanya. Hingga akhirnya, Beliau mengadu kepada Allah seperti yang disebutkan dalam surah Nuh,
قَا لَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَا رًا 

"Dia (Nuh) berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam," (QS. Nuh 71 : 5)
فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِيْۤ اِلَّا فِرَا رًا

"Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran)." (QS. Nuh 71: Ayat 6)
وَاِ نِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْۤا اَصَا بِعَهُمْ فِيْۤ اٰذَا نِهِمْ وَا سْتَغْشَوْا ثِيَا بَهُمْ وَاَ صَرُّوْا وَا سْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَا رًا

"Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri." (QS. Nuh 71: Ayat 7)
ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَا رًا

"Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang terangan." (QS. Nuh 71: Ayat 8)
ثُمَّ اِنِّيْۤ اَعْلَـنْتُ لَهُمْ وَاَ سْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَا رًا

"Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam diam," (QS. Nuh 71: Ayat 9)
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ غَفَّا رًا

"Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun," (QS. Nuh 71: Ayat 10)
يُّرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَا رًا

"Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu," (QS. Nuh 71: Ayat 11)
وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَ مْوَا لٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّـكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّـكُمْ اَنْهٰرًا

"Dan Dia memperbanyak harta dan anak anakmu, dan mengadakan kebun kebun untukmu dan mengadakan sungai sungai untukmu." (QS. Nuh 71: Ayat 12)
Nabi Nuh 'Alaihis Salam berkata,
وَ قَا لَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَ رْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّا رًا

"Dan Nuh berkata, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang orang kafir itu tinggal di atas bumi." (QS. Nuh 71 : 26)
اِنَّكَ اِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوْا عِبَا دَكَ وَلَا يَلِدُوْۤا اِلَّا فَا جِرًا كَفَّا رًا

"Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur." (QS. Nuh 71 : 27)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat kapal, dan mengajarkan kepadanya bagaimana cara membuatnya dengan baik. Mulailah Nabi Nuh ‘alaihissalam membuat kapal dengan dibantu orang orang yang beriman kepadanya.

Setiap kali, orang orang kafir melewati Nuh dan pengikutnya, mereka menghina dan mengejeknya karena melihat Beliau membuat kapal besar di gurun sahara yang tidak ada sungai dan laut. Penghinaan mereka bertambah, ketika mereka tahu bahwa maksud Nabi Nuh ‘alaihissalam membuatnya adalah untuk menyelamatkan dirinya dan pengikutnya dari azab yang akan Allah timpakan kepada mereka.

Akhirnya, pembuatan kapal pun selesai, Nabi Nuh mengetahui bahwa banjir besar akan tiba, maka ia meminta kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menaiki kapal tersebut, ia juga mengangkut setiap hewan, burung, dan hewan lainnya sepasang.

Hingga ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam bersama pengikutnya telah berada di atas kapal, datanglah banjir besar. Langit mengucurkan hujannya dengan deras, mata air di bumi pun mulai memancarkan airnya dengan kuat, Nabi Nuh pun berkata,
وَقَا لَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰىهَا وَمُرْسٰٮهَا ۗ اِنَّ رَبِّيْ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Dan dia berkata, "Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Hud 11 : 41)
Kapal pun mulai berlabuh dan mengapung di atas air. Ketika itu, Nabi Nuh melihat anaknya yang kafir, ia memanggilnya dan berkata,
وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَا لْجِبَا لِ ۗ وَنَا دٰى نُوْحُ ٱِبْنَهٗ وَكَا نَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ

"Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, "Wahai anakku ! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang orang kafir." (QS. Hud 11 : 42)
Tetapi anaknya menolak ajakannya seraya berkata,
قَا لَ سَاٰ وِيْۤ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَآءِ ۗ قَا لَ لَا عَا صِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚ وَحَا لَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَا نَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

"Dia (anaknya) menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah !" (Nuh) berkata, "Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan." (QS. Hud 11 : 43)
Kaum Nabi Nuh yang kafir saat melihat air membanjiri rumah mereka dan mengalir dengan derasnya, maka mereka merasa akan binasa, mereka pun segera mencari tempat tempat tinggi untuk menyelamatkan diri, tetapi sayang sekali, ternyata banjir itu telah mencapai puncak gunung. Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan orang orang kafir dan menyelamatkan Nabi Nuh serta para pengikutnya. Nuh dan pengikutnya pun bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas keselamatan yang diberikan-Nya.

Setelah kaum yang kafir itu tenggelam, maka diwahyukan kepada langit dan bumi,
وَقِيْلَ يٰۤاَ رْضُ ابْلَعِيْ مَآءَكِ وَيٰسَمَآءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الْاَ مْرُ وَا سْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّـلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

"Dan difirmankan, "Wahai Bumi ! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan !) berhentilah." Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, "Binasalah orang orang zalim." (QS. Hud 11 : 44)
Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nuh dan para pengikutnya turun dari kapal, Dia berfirman,
قِيْلَ يٰـنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلٰۤى اُمَمٍ مِّمَّنْ مَّعَكَ ۗ وَاُ مَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِّنَّا عَذَا بٌ اَلِيْمٌ

"Difirmankan, "Wahai Nuh ! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih." (QS. Hud 11 : 48)
Ketika diketahui oleh Nuh ‘alaihissalam anaknya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan, Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata,
وَنَا دٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَا لَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْ وَاِ نَّ وَعْدَكَ الْحَـقُّ وَاَ نْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ

"Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil." (QS. Hud 11 : 45)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قَا لَ يٰـنُوْحُ اِنَّهٗ لَـيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚ اِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَا لِحٍ فَلَا تَسْـئَــلْنِ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنِّيْۤ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ

"Dia (Allah) berfirman, "Wahai Nuh ! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh." (QS. Hud 11 : 46)
Nabi Nuh pun berkata,
قَا لَ رَبِّ اِنِّيْۤ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـئَلَكَ مَا لَـيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗ وَاِ لَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْۤ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

"Dia (Nuh) berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi." (QS. Hud 11 : 47)
Setelah Nabi Nuh dan para pengikutnya turun dan melepaskan hewan hewan yang diangkutnya, maka mulailah Beliau dan para pengikutnya menjalani hidup yang baru, Beliau berdakwah kepada kaum mukmin dan mengajarkan kepada mereka hukum hukum agama, Beliau banyak melakukan dzikrullah, shalat, dan berpuasa, hingga Beliau wafat dan menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.