Kisah Nabi Hud - Pelajaran Berharga dari Kisah Nabi Hud 'Alaihissalam

Allah Ta’ala mengutus Nabi Hud 'Alaihissalam kepada bangsa 'Aad, generasi pertama yang tinggal di daerah Ahqaf di wilayah Hadhramaut (Yaman), ketika semakin bertambahnya kejahatan dan kesewenangwenangan mereka terhadap para hamba Allah Ta'ala. Mereka berkata, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
مَنْ اَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

"Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami ?" (QS. Fussilat 41 : Ayat 15)
Selain itu, kaum 'Aad juga melakukan kesyirikan terhadap Allah Ta'ala dan pendustaan terhadap para rasul. Maka, Allah Ta'ala mengutus Nabi Hud 'Alaihissalam ke tengah tengah mereka untuk mengajak mereka agar menyerahkan segala ibadah hanya untuk Allah Ta'ala satu satunya, dan melarang dari perbuatan syirik, serta kesewenang wenangan terhadap hamba hamba Allah Ta'ala.

Beliau mengajak kaumnya dengan segala cara serta mengingatkan mereka akan berbagai nikmat yang telah Allah Ta'ala berikan berupa kebaikan dunia, kelebihan rezeki, dan kekuatan fisik. Tapi mereka menolak seruan tersebut dan menampakkan sikap sombong, tidak mau menyambut seruan Nabi Hud 'alaihissalam. Mereka bahkan mengatakan, seperti diceritakan Allah Ta'ala,
قَا لُوْا يٰهُوْدُ مَا جِئْتَـنَا بِبَيِّنَةٍ وَّمَا نَحْنُ بِتٰـرِكِيْۤ اٰلِهَـتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَـكَ بِمُؤْمِنِيْنَ

"Mereka (kaum 'Ad) berkata, "Wahai Hud ! Engkau tidak mendatangkan suatu bukti yang nyata kepada kami, dan kami tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu dan kami tidak akan mempercayaimu," (QS. Hud 11 : Ayat 53)
Mereka telah melakukan pendustaan dengan pernyataan ini. Karena tidak ada satu nabi pun, melainkan pasti telah Allah Ta'ala berikan ayat ayat, yang semestinya dengan ayat itu semua orang akan beriman. Seandainya tidak ada yang menjadi ayat ayat (tanda tanda kebenaran) para rasul tersebut kecuali ajaran agama yang mereka bawa itu sendiri, itu pun sudah cukup menjadi dalil atau bukti paling utama bahwasanya ajaran agama ini berasal dari sisi Allah Ta'ala.

Di samping kokoh dan sistematisnya untuk kemaslahatan manusia, kapan dan di mana saja, sesuai dengan situasi dan kondisi, kebenaran berita yang ada dalam agama ini berupa perintah terhadap seluruh kebaikan dan larangan dari segala kejahatan, turut menjadi bukti kebenaran para rasul. Juga masing masing rasul itu membenarkan rasul yang datang sebelumnya dan menjadi saksi akan kebenaran dakwahnya. Sekaligus membenarkan dan menjadi saksi pula bagi rasul yang akan datang setelahnya.

Nabi Hud 'alaihissalam sendirian dalam berdakwah. Beliau menganggap mimpi mimpi kaumnya sebagai suatu kebodohan dan menyatakan mereka sesat, serta mencela sesembahan mereka. Sementara kaum Nabi Hud 'alaihissalam adalah orang orang yang tubuhnya sangat kuat dan suka berbuat sewenang wenang.

Mereka menakut nakuti Nabi Hud 'alaihissalam dengan sesembahan mereka. Bila tidak berhenti berdakwah, niscaya Nabi Hud 'alaihissalam (menurut ancaman mereka) akan ditimpa penyakit gila dan kejelekan. Namun, Nabi Hud 'alaihissalam justru terang terangan melemparkan tantangan kepada mereka dan berkata,
اِنْ نَّقُوْلُ اِلَّا اعْتَـرٰٮكَ بَعْضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوْٓءٍ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَا شْهَدُوْۤا اَنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

"Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." Dia (Hud) menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan," (QS. Hud 11 : Ayat 54)
مِنْ دُوْنِهٖ فَكِيْدُوْنِيْ جَمِيْعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُوْنِ

"Dengan yang lain, sebab itu jalankanlah semua tipu dayamu terhadapku dan jangan kamu tunda lagi." (QS. Hud 11 : Ayat 55)
اِنِّيْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ رَبِّيْ وَرَبِّكُمْ ۗ مَا مِنْ دَآ بَّةٍ اِلَّا هُوَ اٰخِذٌ بِۢنَا صِيَتِهَا ۗ اِنَّ رَبِّيْ عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

"Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil)." (QS. Hud 11 : Ayat 56)
Maka, ayat mana lagi yang lebih besar dari tantangan Nabi Hud 'alaihissalam kepada musuh musuhnya yang sangat menentang seruan beliau dengan berbagai macam cara. Ketika kejahatan mereka telah melampaui batas, Nabi Hud 'alaihissalam meninggalkan dan mengancam mereka dengan turunnya azab Allah Ta’ala.

Maka datanglah azab tersebut menyebar di seluruh cakrawala. Mereka dilanda kekeringan yang ganas sehingga sangat membutuhkan siraman air hujan. Di saat mereka dalam keadaan bergembira melihat awan tebal di atas mereka dan berkata,
فَلَمَّا رَاَ وْهُ عَا رِضًا مُّسْتَقْبِلَ اَوْدِيَتِهِمْ ۙ قَا لُوْا هٰذَا عَا رِضٌ مُّمْطِرُنَا ۗ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهٖ ۚ رِيْحٌ فِيْهَا عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ

"Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah lembah mereka, mereka berkata, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita." (Bukan !) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih," (QS. Al Ahqaf 46 : Ayat 24)
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِۢاَمْرِ رَبِّهَا فَاَ صْبَحُوْا لَا يُرٰۤى اِلَّا مَسٰكِنُهُمْ ۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ

"Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum 'Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (QS. Al Ahqaf 46 : Ayat 25)
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَا لٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّا مٍ ۙ حُسُوْمًا ۙ فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰى ۙ كَاَ نَّهُمْ اَعْجَا زُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

"Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus menerus, maka kamu melihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (QS. Al Haqqah 69 : Ayat 7)
Semua itu terjadi di saat mereka dahulu senantiasa tertawa gembira, berada dalam kemuliaan yang sempurna, kemewahan dunia yang berlimpah, seluruh kabilah dan daerah daerah di sekitarnya tunduk kepada mereka.

Kemudian tiba tiba Allah Ta'ala kirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang dalam beberapa hari secara terus menerus agar mereka merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Padahal sungguh azab akhirat itu lebih menghinakan, sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.
وَاُ تْبِعُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَّيَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ عَا دًا كَفَرُوْا رَبَّهُمْ ۗ اَ لَا بُعْدًا لِّعَا دٍ قَوْمِ هُوْدٍ

"Dan mereka selalu diikuti dengan laknat di dunia ini dan (begitu pula) di hari Kiamat. Ingatlah, kaum 'Ad itu ingkar kepada Tuhan mereka. Sungguh, binasalah kaum 'Ad, umat Hud itu," (QS. Hud 11 : Ayat 60)
Allah Ta'ala menyelamatkan Nabi Hud 'alaihissalam beserta orang orang yang beriman bersamanya. Sesungguhnya di dalam kisah Nabi Hud benar benar terdapat ayat (bukti) yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Ta'ala serta pemuliaan-Nya terhadap para rasul dan para pengikut mereka, pertolongan Allah Ta'ala kepada mereka di dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi saksi (hari kiamat).

Juga ayat (tanda) tentang batilnya kesyirikan, serta kesudahannya yang sangat buruk dan mengerikan. Di dalamnya terdapat bukti atas kehidupan sesudah mati dan dikumpulkannya seluruh manusia.

Pelajaran penting dari kisah nabi hud 'alaihissalam. Sebagaimana juga dalam kisah Nabi Nuh 'alaihissalam, di dalam kisah Nabi Hud juga terdapat beberapa pelajaran yang sama pada semua rasul, antara lain,

1. Allah Ta'ala dengan hikmah-Nya mengisahkan tentang berita umat umat yang bertetangga dengan kita di Jazirah Arab dan sekitarnya. Al Qur’an telah menyebutkan metode paling tinggi dalam memberikan pelajaran atau peringatan.

Allah Ta'ala juga telah menerangkan berbagai pelajaran dengan keterangan yang sebenar benarnya. Tentunya, tidak diragukan lagi bahwa di daerah daerah lain yang lebih jauh dari kita, di timur ataupun di barat, telah Allah Ta'ala utus seorang rasul kepada mereka.

Begitu pula telah dipaparkan bagaimana sambutan, penolakan, atau pemuliaan, serta akibat yang mereka terima. Tidak ada satu umat pun melainkan telah Allah Ta'ala utus kepada mereka seorang rasul.

2. Sangat bermanfaat bagi kita untuk mengingat kondisi daerah di sekitar kita serta apa yang kita terima dari generasi ke generasi. Juga apa yang dapat disaksikan dari peninggalan mereka kapan pun kita melewati bekas pemukiman mereka. Kita pun dapat memahami bahasa dan tabiat mereka lebih dekat, membandingkan dengan tabiat kita.

Tentu saja manfaat tersebut sangat besar dan lebih pantas kita ingat dari pada memaparkan keadaan umat yang belum pernah kita dengar tentang mereka, yang tidak kita kenal bahasa mereka, dan tidak sampai kepada kita keadaan mereka seperti yang Allah Ta'ala ceritakan kepada kita.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengingatkan orang dengan sesuatu yang lebih dekat dengan pemahaman mereka, lebih sesuai dengan keadaan mereka serta lebih mudah mereka dapatkan, akan lebih bermanfaat bagi mereka dibandingkan yang lain. Tentunya lebih pantas untuk disebutkan dengan cara yang lain meskipun juga mengandung kebenaran.

Namun, kebenaran itu bertingkat tingkat. Seorang pengajar atau pendidik, bila dia menempuh cara ini, dan berupaya keras menyebarkan ilmu serta kebaikan kepada manusia dengan jalan jalan yang mereka kenal, tidak membuat umat lari dari dakwah.

Atau dengan suatu metode yang lebih tepat untuk menegakkan hujjah terhadap mereka, niscaya akan bermanfaat. Allah Ta'ala telah mengisyaratkan hal ini pada bagian akhir kisah bangsa 'Aad,
وَلَقَدْ اَهْلَكْنَا مَا حَوْلَـكُمْ مِّنَ الْقُرٰى وَصَرَّفْنَا الْاٰ يٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Dan sungguh, telah Kami binasakan negeri negeri di sekitarmu, dan juga telah Kami jelaskan berulang ulang tanda tanda (kebesaran Kami), agar mereka kembali (bertobat)." (QS. Al Ahqaf 46 : Ayat 27)
3. Menjadikan bangunan bangunan yang besar dan megah sebagai suatu kebanggaan, kesombongan, dan perhiasan serta menindas hamba hamba Allah Ta'ala dengan sewenang wenang adalah perbuatan yang sangat tercela dan merupakan warisan generasi yang melampaui batas. Sebagaimana diterangkan Allah Ta'ala dalam kisah bangsa 'Aad yang diingkari oleh Nabi Hud 'alaihissalam,
اَتَبْنُوْنَ بِكُلِّ رِيْعٍ اٰيَةً تَعْبَثُوْنَ

"Apakah kamu mendirikan istana istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati," (QS. Asy Syu'ara' 26 : Ayat 128)
Secara umum, bangunan untuk istana, benteng, rumah, dan bangunan lainnya, mungkin saja dijadikan tempat tinggal karena memang dibutuhkan. Kebutuhan itu sendiri beraneka ragam dan berbeda beda tingkatnya. Semua ini adalah perkara mubah (dibolehkan) dan justru menjadi wasilah (sarana) kepada kebaikan apabila disertai dengan niat yang lurus.

Atau dapat pula dijadikan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh dan menjaga keamanan suatu daerah, atau manfaat lain bagi kaum muslimin. Ini juga termasuk rangkaian jihad di jalan Allah Ta'ala, berkaitan dengan perintah harus berhati hati terhadap musuh.

Namun, bisa saja itu semua dimanfaatkan demi kesombongan dan kekejaman terhadap hamba hamba Allah Ta'ala, atau pemborosan harta yang sebenarnya dapat digunakan di jalan yang bermanfaat. Ini tentu saja merupakan hal yang sangat dicela oleh Allah Ta'ala pada bangsa 'Aad atau yang lainnya.

4. Pelajaran yang lain, bahwa akal pikiran ataupun kecerdasan dan yang mendukung semua itu serta hasil atau pengaruh yang ditimbulkan, betapa pun besar dan luasnya, tetap tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya kecuali bila ia imbangi dengan keimanan kepada Allah Ta'ala dan para rasul-Nya.

Sedangkan orang yang menentang ayat ayat Allah Ta'ala, mendustakan para rasul Allah Ta'ala, walaupun mendapatkan kesempatan atau diberi tangguh untuk menikmati kehidupan dunia, kesudahan yang akan dia hadapi nanti sangatlah buruk. Pendengaran, penglihatan, dan akalnya tidak akan dapat membelanya sedikit pun jika sudah datang keputusan Allah Ta'ala. Sebagaimana yang telah Allah Ta'ala sebutkan dalam kisah 'Aad,
وَلَقَدْ مَكَّنّٰهُمْ فِيْمَاۤ اِنْ مَّكَّنّٰكُمْ فِيْهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَّاَبْصَا رًا وَّاَفْئِدَةً ۖ فَمَاۤ اَغْنٰى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَاۤ اَبْصَا رُهُمْ وَلَاۤ اَفْئِدَتُهُمْ مِّنْ شَيْءٍ اِذْ كَا نُوْا يَجْحَدُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَحَا قَ بِهِمْ مَّا كَا نُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

"Dan sungguh, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka (dengan kemakmuran dan kekuatan) yang belum pernah Kami berikan kepada kamu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat Allah, dan (ancaman) azab yang dahulu mereka olok-olokkan telah mengepung mereka." (QS. Al Ahqaf 46 : Ayat 26)
وَمَا ظَلَمْنٰهُمْ وَلٰـكِنْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ فَمَاۤ اَغْنَتْ عَنْهُمْ اٰلِهَتُهُمُ الَّتِيْ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ لَّمَّا جَآءَ اَمْرُ رَبِّكَ ۗ وَمَا زَا دُوْهُمْ غَيْرَ تَتْبِيْبٍ

"Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, karena itu tidak bermanfaat sedikit pun bagi yang mereka sembah selain Allah. Ketika siksaan Tuhanmu datang, sesembahan itu hanya menambah kebinasaan bagi mereka." (QS. Hud 11 : Ayat 101)